Jumat, 29 Oktober 2010

8 KEBOHONGAN IBU SELAMA HIDUPNYA

Dalam kehidupan kita sehari-hari,


kita percaya bahwa kebohongan
akan membuat manusia terpuruk
dalam penderitaan yang
mendalam, tetapi kisah ini justru
sebaliknya. Dengan adanya
kebohongan ini, makna
sesungguhnya dari kebohongan ini
justru dapat membuka mata kita
dan terbebas dari penderitaan,
ibarat sebuah energi yang mampu
mendorong mekarnya sekuntum
bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih
kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga
yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika
makan, ibu sering memberikan
porsi nasinya untukku. Sambil
memindahkan nasi ke mangkukku,
ibu berkata : “Makanlah nak, aku
tidak lapar” ———- 
KEBOHONGAN
IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa,
ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi
memancing di kolam dekat rumah,
ibu berharap dari ikan hasil
pancingan, ia bisa memberikan
sedikit makanan bergizi untuk
petumbuhan. Sepulang
memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang
selera. Sewaktu aku memakan sup
ikan itu, ibu duduk di sampingku
dan memakan sisa daging ikan
yang masih menempel di tulang
yang merupakan bekas sisa tulang
ikan yang aku makan. Aku melihat
ibu seperti itu, hati juga tersentuh,
lalu menggunakan sumpitku dan
memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan cepat
menolaknya, ia berkata :
“ Makanlah nak, aku tidak suka
makan ikan” ———-
KEBOHONGAN
IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP,
demi membiayai sekolah abang
dan kakakku, ibu pergi ke koperasi
untuk membawa sejumlah kotak
korek api untuk ditempel, dan
hasil tempelannya itu
membuahkan sedikit uang untuk
menutupi kebutuhan hidup. Di
kala musim dingin tiba, aku
bangun dari tempat tidurku,
melihat ibu masih bertumpu pada
lilin kecil dan dengan gigihnya
melanjutkan pekerjaannya
menempel kotak korek api. Aku
berkata : ”Ibu, tidurlah, udah
malam, besok pagi ibu masih harus
kerja. ” Ibu tersenyum dan
berkata :”Cepatlah tidur nak, aku
tidak capek” ———- 
KEBOHONGAN
IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti
kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah
siang, terik matahari mulai
menyinari, ibu yang tegar dan gigih
menunggu aku di bawah terik
matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi lonceng berbunyi
menandakan ujian sudah selesai,
Ibu dengan segera menyambutku
dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin
untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan
kasih sayang yang jauh lebih
kental. Melihat ibu yang dibanjiri
peluh, aku segera memberikan
gelasku untuk ibu sambil
menyuruhnya minum. Ibu berkata :
“ Minumlah nak, aku tidak haus!”
———-
KEBOHONGAN IBU YANG
KEEMPAT


Setelah kepergian ayah karena
sakit, ibu yang malang harus
merangkap sebagai ayah dan ibu.
Dengan berpegang pada pekerjaan
dia yang dulu, dia harus membiayai
kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun
semakin susah dan susah. Tiada
hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin
parah, ada seorang paman yang
baik hati yang tinggal di dekat
rumahku pun membantu ibuku
baik masalah besar maupun
masalah kecil. Tetangga yang ada
di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu
sengsara, seringkali menasehati
ibuku untuk menikah lagi. Tetapi
ibu yang memang keras kepala
tidak mengindahkan nasehat
mereka, ibu berkata : “Saya tidak
butuh cinta” ———-
KEBOHONGAN
IBU YANG KELIMA


Setelah aku, kakakku dan abangku
semuanya sudah tamat dari
sekolah dan bekerja, ibu yang
sudah tua sudah waktunya
pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia
rela untuk pergi ke pasar setiap
pagi untuk jualan sedikit sayur
untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kakakku dan abangku
yang bekerja di luar kota sering
mengirimkan sedikit uang untuk
membantu memenuhi kebutuhan
ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak
mau menerima uang tersebut.
Malahan mengirim balik uang
tersebut. Ibu berkata : “Saya punya
duit” ———-
KEBOHONGAN IBU
YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun
melanjutkan studi ke S2 dan
kemudian memperoleh gelar
master di sebuah universitas
ternama di Amerika berkat sebuah
beasiswa di sebuah perusahaan.
Akhirnya aku pun bekerja di
perusahaan itu. Dengan gaji yang
lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati
hidup di Amerika. Tetapi ibu yang
baik hati, bermaksud tidak mau
merepotkan anaknya, ia berkata
kepadaku “Aku tidak terbiasa”
———-
KEBOHONGAN IBU YANG
KETUJUH


Setelah memasuki usianya yang
tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah
sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik
langsung segera pulang untuk
menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah
di ranjangnya setelah menjalani
operasi. Ibu yang keliatan sangat
tua, menatap aku dengan penuh
kerinduan. Walaupun senyum yang
tersebar di wajahnya terkesan agak
kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa
penyakit itu menjamahi tubuh
ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku
sambil menatap ibuku sambil
berlinang air mata. Hatiku perih,
sakit sekali melihat ibuku dalam
kondisi seperti ini. Tetapi ibu
dengan tegarnya berkata : “Jangan
menangis anakku, aku tidak
kesakitan ” ———-
KEBOHONGAN
IBU YANG KEDELAPAN.






Setelah mengucapkan
kebohongannya yang kedelapan,
ibuku tercinta menutup matanya
untuk yang terakhir kalinya.






Dari cerita di atas, saya percaya
teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali
mengucapkan : ” Terima kasih ibu !


Coba dipikir-pikir teman, sudah
berapa lamakah kita tidak
menelepon ayah ibu kita? Sudah
berapa lamakah kita tidak
menghabiskan waktu kita untuk
berbincang dengan ayah ibu kita?
Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu
mempunyai beribu-ribu alasan
untuk meninggalkan ayah ibu kita
yang kesepian. Kita selalu lupa
akan ayah dan ibu yang ada di
rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar
kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu
cemas akan kabar pacar kita,
cemas apakah dia sudah makan
atau belum, cemas apakah dia
bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah
mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah
makan atau belum? Cemas apakah
ortu kita sudah bahagia atau
belum? Apakah ini benar? Kalau
ya, coba kita renungkan kembali
lagi. Di waktu kita masih
mempunyai kesempatan untuk
membalas budi ortu kita,
lakukanlah yang terbaik. Jangan
sampai ada kata “MENYESAL” di
kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar